BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Maret 2016

4 Pejabat The Fed Buka Peluang Kenaikan Rate Lagi Tahun Ini


Empat pejabat the Fed menyampaikan pandangan mengenai arah kebijakan dan mendukung kenaikan suku bunga selama ekonomi AS masih sanggup menjalaninya.


FederalReserveHari ini, Presiden the Fed distrik Philadelphia Patrick Harker mengatakan kenaikan suku bunga perlu dipertimbangkan bulan depan bila ekonomi terus membaik. Anggota terbaru FOMC itu mengatakan meski mendukung keputusan bulan ini, ia tetap melihat adanya dasar kuat untuk terus menaikkan suku bunga. “Menurutku sebaiknya segera dilakukan saja,” katanya.

Semalam, Presiden the Fed distrik Chicago Charles Evans juga mengatakan hal senada, bahwa suku bunga bisa naik bila fundamental ekonomi mendukung. Ia mengatakan suku bunga bisa saja dinaikkan dua kali tahun ini selama bila ekonomi AS tumbuh 2,5% dan tingkat pengangguran turun ke 4,7%. Evans bukanlah anggota yang punya hak voting tahun ini, tapi dikenal sebagai salah satu pejabat paling dovish.

Pernyataan kedua pejabat itu datang menyusul pandangan dua pejabat lainnya yang mengungkapkan adanya ruang untuk menaikkan suku bunga. Senin lalu, Presiden distrik Atlanta Dennis Lockhart mengatakan ekonomi AS cukup untuk untuk menyerap kenaikan suku bunga secepatnya bulan depan. Menurutnya, ada cukup momentum dari data ekonomi untuk menjustifikasi langkah lanjutan.

Di hari yang sama, Presiden distrik San Francisco John Williams mengatakan ia mendukung kenaikan suku bunga pada April atau Juni bila data ekonomi keluar bagus. Menurutnya, ekonomi AS terlihat baik dan the Fed bisa saja menaikkan suku bunga kalau bukan karena faktor global.

Komentar keempat pejabat itu merupakan indikasi bahwa masih adanya optimisme di internal the Fed. Patut disebutkan bahwa keempat orang ini bukanlah anggota yang punya hak voting. Dalam rapat reguler, anggota yang non voting tetap menghadirinya, berpartisipasi dalam diskusi, dan turut menyumbang dalam evaluasi ekonomi dan kebijakan.

Rabu, 10 Februari 2016

Yellen Sinyalkan Hike Rates, Tapi Tergantung Gejolak Pasar

Ketua Fed Janet Yellen mengatakan bahwa Federal Reserve masih mengharapkan untuk adanya kenaikan suku bunga secara bertahap di saat mereka juga berusaha membuat itu jelas bahwa masih berlanjutnya gejolak di pasar dapat membuat bank sentral tentunya menjauh dari beberapa kenaikan suku bunga yang telah diperkirakan oleh pembuat kebijakan untuk tahun 2016.

Yellen dalam testimoninya yang diberikan pada hari Rabu kepada House Financial Services Committee di Washington mengatakan bahwa kondisi keuangan di Amerika Serikat akhir-akhir ini menjadi kurang mendukung untuk pertumbuhan ekonomi. Pada perkembangan ini, jika ekonomi terbukti lesu, dapat membebani outlook untuk aktivitas ekonomi dan pasar kerja.

Yellen, yang memulai  testimoni selama dua hari di Capitol Hill juga mengatakan kepada anggota parlemen bahwa ketidakpastian atas prospek ekonomi China dan kebijakan nilai tukar "telah memperburuk kecemasan terhadap outlook untuk pertumbuhan global" dan ditambah dari penurunan terbaru dari harga minyak dan komoditas lainnya. Penurunan harga yang lebih dalam di harga komoditas dapat memicu tekanan di seluruh dunia yang akan mengancam terhadap permintaan ekspor AS, ucapnya.

Yellen masih membuka pintu untuk kenaikan di bulan Maret, meskipun dia tidak secara eksplisit merujuk waktu pengetatan kebijakan atau pertemuan atau pertemuan Fed selanjutnya.

Ward McCharthy, kepala ekonom di Jefferies LLC di New York mengatakan bahwa dia masih memegang senjatanya. Gejolak di pasar keuangan  tidak akan membuat mereka mundur. Itu bisa saja mempengaruhi kecepatan dimana mereka akan menormalkan suku bunga, namun mereka masih berkomitmen untuk menormalkan suku bunga.

Selasa, 09 Februari 2016

Yen Berjaya

Yen meraih level tertinggi dalam setahun terakhir atas dollar, di tengah gelombang aksi jual di pasar keuangan karena kekhawatiran mengenai ekonomi dunia. Sedangkan euro rebound, turut terangkat di tengah kejatuhan saham.

Yen, yang terangkat ketika terjadi gejolak di pasar, menguat terhadap 16 mata uang dunia. Volatitas mata uang semakin tinggi di saat saham Eropa jatuh ke level terendah dalam enam bulan, yang turut menekan saham AS. Investor kehilangan minat pada aset berisiko di tengah kekhawatiran mengenai ekonomi global yang sedang melambat. Memburuknya ekonomi China dan emerging markets lainnya menimbulkan kecemasan mengenai ancaman resesi.

Kekhawatiran soal potensi resesi semakin kuat akibat kejatuhan saham perbankan Eropa, yang sudah jatuh rata-rata 20% tahun ini. Bunga rendah yang diterapkan ECB menyebabkan krisis profitabilitas di bank, artinya laba bank dari pinjaman tergerus habis karena bunga di bawah nol. Banyak yang beranggapan kejatuhan saham perbankan sebagai cikal bakal krisis.

Saat ini pasar sedang diliputi oleh kepanikan dan dikendalikan oleh ketakutan, terkait prospek ekonomi global. Karena itu, membutuhkan sesuatu agar bisa tenang kembali, paling tidak untuk sementara. Fokus selanjutnya adalah kesaksian Ketua the Fed Janet Yellen di hadapan Kongres besok malam. Pasar ingin mencari petunjuk soal arah kebijakan the Fed dan komentarnya soal kondisi pasar.

Karena bunga yang rendah, yen sering digunakan untuk membiayai pembelian aset berisiko tapi ber-yield tinggi seperti saham. Ketika terjadi gejolak di bursa saham, investor melepas sebagian portofolio dan kembali mendapat uang dalam bentuk yen. Karena ECB juga menerapkan bunga yang rendah, euro kini digunakan sebagai mata uang carry trade, makanya ikut menguat ketika terjadi gejolak di bursa saham.

Sumber : StrategyDesk

Minggu, 07 Februari 2016

After 17 Years, ECB Reveals $547 Billion in Central-Bank Assets

http://traderbangunpagi.blogspot.co.id/2016/02/after-17-years-ecb-reveals-547-billion.html
The euro area’s 19 national central banks hold investment assets worth almost half a trillion euros, according to previously secret information published on Friday by the European Central Bank in Frankfurt.

The ECB set out details of the so-called Agreement on Net Financial Assets, a document signed before the introduction of the euro a decade and a half ago that regulated how the previously independent national central banks would manage their holdings of foreign currencies and bonds. While some of those national authorities have still to publish their individual accounts, the ECB said the outstanding amount stood at 490 billion euros ($547 billion) at the end of 2015.

Even though the assets are separate from those built up by the ECB for monetary policy purposes -- such as the current quantitative easing program -- the increase in the total level of holdings during the sovereign debt crisis has led to accusations that national authorities were printing money to serve their own governments, a practice that would be illegal under European law. ANFA sets quotas for each country and aims to prevent national central banks’ investment activity from interfering with monetary policy.
Confidential Document

“Although ANFA was previously a confidential document, the ECB and the national central banks of the Eurosystem took the unanimous decision that publishing the text along with an explanatory document would better serve their commitment to greater transparency,” the ECB said in the statement on its website, made after 9 p.m. Frankfurt time on Friday.

National assets have grown at an average rate of 5 percent per year since the introduction of euro banknotes in 2002, the ECB said, adding that the increase was slower than that for cash in circulation. National central banks will release more details about their ANFA activities in their respective annual reports.

The document also includes an annex on the calculation of the quota system, which regulates how much each national central bank can hold. Before the introduction of the euro, some national institutions had considerable assets, often related to the management of their currencies. The assets now are frequently related to the management of pension funds and other tasks not related to monetary policy.

The quota system became briefly controversial in 2013 when the Irish central bank was allowed to exceed its own limit in order to process a debt swap with the government related to the country’s banking collapse. The deal was criticized by Germany and others for being close to prohibited monetary financing.

“ANFA purchases are entirely a matter for national central banks,” ECB President Mario Draghi said at a press conference on Dec. 3. “I would exclude completely any possibility of monetary financing.”

Source : Bloomberg

China's Forex Reserves Decline to $3.23 Trillion

http://traderbangunpagi.blogspot.co.id/2016/02/chinas-forex-reserves-decline-to-323.html
China’s foreign-exchange reserves shrank to the smallest since 2012, indicating that the central bank sold dollars as the yuan’s retreat to a five-year low exacerbated depreciation pressure.

The world’s largest currency hoard decreased by $99.5 billion in January to $3.23 trillion, according to a People’s Bank of China statement released on Sunday. The contraction was less than a Bloomberg survey’s median estimate of a $120 billion drop. The stockpile slumped by more than half a trillion dollars in 2015, the first-ever annual decline.

Policy makers fighting to hold up the weakening yuan amid slower economic growth, plunging stocks and increasing outflows have been burning through the reserves. The draw-down has continued since the central bank’s surprise devaluation of the currency in August, when the stockpile tumbled $94 billion, a monthly record before December’s unprecedented $108 billion decline.

“While the remaining reserves represent a substantial war chest, the rapid pace of depletion in recent months is simply unsustainable,” said Rajiv Biswas, Asia-Pacific chief economist at IHS Global Insight in Singapore. “Domestic private investors and global currency traders see a one-way bet against the currency. This has resulted in large-scale private capital outflows since early 2015 as expectations mount that the PBOC will eventually be forced to capitulate once its reserves are sufficiently depleted.”
Outflows Rise

Capital outflows increased to $158.7 billion in December, the most since September and were $1 trillion last year, according to estimates from Bloomberg Intelligence. That’s more than seven times the amount of cash that left in 2014.

The PBOC has stepped up efforts to stem the exodus, warning speculators that they will be punished. It intervened in the Hong Kong market last month after the yuan’s offshore exchange rate sank to a record 2.9 percent discount to the onshore rate. Apart from selling dollars, the monetary authority also gave guidance to some Chinese lenders in the city to suspend yuan lending to curb short selling, a move that contributed to the overnight interbank lending rate surging to an all-time high of 66.8 percent on Jan. 12.
Yuan Outlook

The median estimate in a Bloomberg survey is for the yuan to drop to 6.76 a dollar by the end of this year, with Rabobank Group the most pessimistic with a 7.53 prediction. The currency has declined 1.24 percent so far this year, closing at 6.5755 in Shanghai on Friday. Chinese financial markets are shut for the Lunar New Year holiday.

China’s top economic planner said that the objective for this year is for an expansion in the range of 6.5 percent to 7 percent. The 6.9 percent growth in 2015 was the slowest in 25 years. Exports probably declined for the seventh straight month in January, according to the median estimate in a Bloomberg survey before data due Feb. 15. China increased its gold hoard in January, raising its holdings to 57.18 million ounces at it looks to diversify its foreign-exchange stockpile.

“The smaller decline in the reserves suggests that some capital outflow restrictions imposed in January worked, ” Shen Jianguang, chief Asia economist at Mizuho Securities Asia Ltd. in Hong Kong, wrote in a note on Sunday, adding that he estimates the drop in February will be “much smaller.”

Source : Bloomberg

Minggu, 30 Agustus 2015

Fed update: Wrap up on Jackson Hole

Several FOMC members have voiced their opinions this weekend at the Jackson Hole Symposium. The most important was Vice Chair Stanley Fischer who participated in a panel discussion on Saturday on inflation dynamics and monetary policy.  

Fischer delivered a speech which was somewhat more hawkish than what we heard  from NY Fed President Dudley last week. Fisher acknowledged the improvement in the labour market, stating that the latest run of employment gains were "well above the amount needed to continue the strengthening of the labor market". At the same time, he noted that the FOMC was surprised that despite the large improvement in the labour market and the drop in the unemployment rate, core inflation had not trended higher over the past five years. This led him to note that "While much evidence points to at least some ongoing role for slack in helping to explain movements in inflation, this influence is typically estimated to be modest in magnitude, and can easily be masked by other factors".

Moving on to explaining what was the factor behind current low inflation rates, he sounded pretty confident that they were mostly transitory and that the bulk of the impact on inflation had already been felt. In particular, he mentioned the impact from the USD, lower oil prices and the decline in other commodity prices would likely peak this year. Given the stable (consumer) inflation expectations, the Vice Chair expected that when these transitory factors dissipate, inflation would move towards the 2% target, but noticing some risks to this view given the decline in market based inflation expectations.  

"In terms of when to hike rates, we see Fischer's comments as consistent with a Fed rate hike in December", says Danske Bank. 

It seems that the Fed would like to get a little more confidence that inflation is moving in the right direction before hiking. However, it is also worth noticing that we do not need to see inflation rates anywhere near 2% before lift-off, as long as the trend in core inflation is not down. To sum up, George, Mester, Bullard and Lockhart are ready to hike either now or very soon. Kocherlakota wants to wait well into next year.

Sabtu, 22 Agustus 2015

5 Alasan yang Akan Buat The Fed Tunda Naikan Rate

Berkat pemulihan ekonomi AS, empat minggu dari sekarang The Fed diperkirakan mulai menaikkan suku bunganya untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

Tapi minutes dari rapat bulan lalu, yang dipublikasikan semalam, menyampaikan sinyal yang lain. Dalam minutes itu memang disebutkan para pejabat mengakui adanya perkembangan yaitu tingginya penyerapan tenaga kerja. Pada dasarnya, The Fed hanya mampu mencapai satu dari dua mandatnya, yaitu ketenagakerjaan maksimal. Pertumbuhan lapangan kerja sangat pesat, yang menyebabkan tingkat pengangguran turun ke 5,3% atau terendah dalam tujuh tahun.

Tapi masih ada serangkaian masalah yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan the Fed. Serangkaian masalah ini bisa menghambat rencana the Fed antara sekarang dan nanti, baik internal maupun eksternal. Berikut lima faktor yang berpotensi membuat the Fed menunda kenaikan suku bunga.

Apresiasi Dollar
Dollar terus menguat dalam setahun terakhir, yang didukung oleh pemulihan ekonomi AS dan prospek kenaikan suku bunga the Fed. Selain itu, penguatan dollar juga disebabkan oleh lesunya ekonomi negara lain, baik maju maupun berkembang. Yield obligasi AS terus menanjak, dianggap imbal hasil yang menarik di saat negara maju lain menawarkan tingkat lebih rendah.

Masalahnya, penguatan dollar membuat barang impor menjadi lebih murah, mengurangi tekanan inflasi. Penguatan dollar juga menekan ekonomi negara berkembang, yang sanat rentan dengan fluktuasi nilai tukar. Sudah banyak negara yang mengalami pelemahan nilai tukar di saat ekonomi lesu, seperti Indonesia, Brazil, Meksiko dan Turki. Kenaikan suku bunga the Fed tentunya bisa menambah tekanan ke ekonomi mereka.

Perlambatan China
Minutes dari rapat bulan lalu juga menunjukkan para pejabat khawatir dengan perkembangan di China. Padahal rapat ini terjadi sebelum devaluasi yuan. Mereka melihat kejatuhan bursa saham China tidak akan banyak berdampak pada prospek pertumbuhannya. Tapi sebagian pejabat khawatir perlambatan tajam ekonomi China bisa membahayakan prospek ekonomi AS.

Sejak rapat itu, kondisi memburuk dengan China mendevaluasi mata uang nya. Langkah itu dianggap sebagai upaya China mendorong ekspor, mengguncang pasar keuangan global karena menimbulkan kecemasan ekonomi China lebih buruk dari dugaan. Pelemahan yuan bisa memicu perang mata uang di kawasan, yang kemudian semakin memperkuat dollar AS. Selain itu, defisit perdagangan AS bisa bertambah.

Perlambatan Lapangan kerja

Meski lapangan kerja tumbuh pesar, minutes menunjukkan para pejabat masih khawatir kondisinya belum cukup sehat. Mereka berpandangan masih banyak orang yang berhenti mencari kerja dan tenaga ahli yang terpaksa bekerja paruh waktu. Bila laporan payroll Agustus, data payroll terakhir yang akan dilihat the Fed sebelum rapat September, menunjukkan angka yang lebih rendah dari bulan lalu, the Fed bisa menunda kenaikan.

Melesetnya Target Inflasi
Bukan hanya penguatan dollar yang menghambat laju inflasi, tapi juga penurunan harga komoditas. Harga minyak terus jatuh, menyentuh ke level terendah dalam 5 tahun. Banyak pengamat mengatakan prospek meningkatnya ekspor minyak Iran setelah pencabutan sanksi bisa semakin menekan harga. Meski positif untuk konsumen, hal ini bisa mempersulit the Fed mencapai target inflasi 2%. The Fed pernah mengatakan tidak akan menaikkan suku bunga sampai yakin inflasi bisa kembali ke target.

Kisruh RAPBN AS
Kongres AS kembali bekerja bulan depan setelah resesi selama Agustus dan banyak pekerjaan menunggu, di antara merampungkan RPABN pada 1 Oktober dan menaikkan pagu utang untuk mencegah default. Adanya ancaman bangkrutnya pemerintah AS (government shutdown) dan kisruh anggaran yang menyebabkan the Fed menunda pemangkasan program pembelian obligasi pada 2013. Hal yang sama bisa terulang kembali, memaksa the FEd menunda kenaikan suku bunga.

Minggu, 16 Agustus 2015

Bank Sentral China Jamin Tak Ada Pelemahan Yuan Lagi

Bank Sentral China (PBOC) memberi jaminan kepada pasar bahwa tidak ada alasan untuk yuan jatuh lebih dalam lagi, membantah spekulasi ada keingingan di Beijing untuk pelemahan lebih lanjut.

Di saat yuan melemah untuk hari ketiga, Kamis kemarin, PBOC memastikan pihaknya punya alat untuk menjaga stabilitas yuan dan membuka kemungkinan nilai tukar kembali menguat di masa mendatang. PBOC mengatakan lingkungan ekonomi kuat, surplus perdagangan, kondisi fiskal yang terjaga dan cadangan devisa berlimpah memberi dukunga yang kuat pada nilai tukar.

Pernyataan ini ditujukan untuk menjawab isu seputar adanya dorongan dari tingkat tinggi agar nilai tukar lebih ditekan. Reuters mendapat laporan dari sumbernya bahwa kekuatan besar dalam pemerintah mendesak agar yuan dibiarkan melemah lebih jauh lagi, dengan devaluasi mencapai 10%.

Tapi Deputi Gubernur Yi Gang menepis isu itu, sembari mengklaim tidak perlu menyesuaikan yuan untuk mendongkrak ekspor. Ia juga berjanji pihaknya akan memperbaiki mekanisme penetapan harga yuan, lebih membuka pasar valasnya dan menarik investor asing dengan meliberalisasi pasar keuangan.
 
Back To Top
Distributed By Blogger Templates | Designed By OddThemes